Oleh: Risma Kholiq

Suatu hari di Pasar Minggu, tepatnya di pangkalan truk tahun 1984 ada seorang laki-laki bernama Husein melihat orang tua yang duduk di emperan toko sedang menangis kesedihan. Orang tua itu hanya memakai celana pendek tanpa mengenakan baju dan terlihat compang-camping seperti orang gila. Husein penasaran dengan orang tua itu, dia memiliki firasat bahwa orang tersebut sedang membutuhkan bantuannya. Tanpa berpikir panjang Husein langsung menghampiri orang tua itu dan menegurnya.

“Bapak mengapa menangis?” tanya Husein kepada orang tua itu.

Orang tua itu menjawab, “Abdi teh nton tilu dinten nte dahar, jadi abdi teh lapar. Nuhun keun makan sama warung sangu, eh bukannya dikasih makan malahan disiram pakai air dan disuruh pergi jauh-jauh”.

Mendengar cerita dari orang tua itu, Husein langsung mengajaknya makan, lalu membayarinya. Selesai makan orang tua itu terlihat segar dari sebelumnya. Kemudian, Husein memberikan pakaian kepada orang tua itu dan menyuruhnya untuk bersih-bersih di kamar mandi pangkalan truk tempat Husein bekerja. 

Selesai orang tua itu bersih-bersih, Husein menanyakan bagaimana orang tua itu bisa tidak makan selama 3 hari. Lalu, orang tua itu bercerita bahwa orang tuanya di kampung yang bertempat tinggal di Kuningan meninggal dunia. Lalu, dia berpesan kepada istri dan tetangganya supaya tidak dikuburkan dahulu, karena orang tua itu ingin memberitahukan kakak kandungnya yang tinggal di Tangerang. Sesampainya di Tangerang ternyata kakaknya sudah pindah rumah. Kemudian, ketika bertanya kepada tetangga sekitar tidak ada yang mengetahui ke mana kakaknya itu pindah rumah. 

Lalu, orang tua itu terus mencari-cari rumah kakaknya hingga larut malam. Namun, tak kunjung ketemu. Akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk segera pulang malam itu juga, karena jenazah bapaknya yang belum dikuburkan. Akan tetapi, ketika di jalan pulang orang tua itu mengalami musibah dibegal oleh 4 orang. Semua yang dimiliki orang tua itu baik tas dan dompetnya dirampas, hingga sepatu dan bajunya pun dirampas juga oleh pembegal itu dan hanya  menyisakan celana pendek yang dia kenakan sekarang. 

Karena musibah itu, dia tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Kuningan. Lalu, dia terpikirkan untuk menumpang dengan mobil truk, tetapi dia malah diturunkan di Pancoran. Saat itu, dia sedih dan bingung harus berbuat apa. Dipikirannya sekarang ialah ia takut bila jenazah bapaknya belum dikuburkan, sebab orang tua itu sudah berpesan kepada istri dan tetangganya untuk tidak dikuburkan dahulu sebelum dia pulang.

Mendengar cerita orang tua itu,  terketuk hati Husein ingin membantu mencarikan uang dengan memungut sumbangan bersama teman-temannya untuk ongkos pulang orang tua itu. Alhamdulillah uang sumbangan terkumpul sebanyak Rp 6.000. Dengan rincian biaya saat itu, untuk biaya bus Cirebon-Kuningan sebesar Rp 1.300 dan untuk bus Mayasari sebesar Rp 100. Sisanya untuk pegangan orang tua itu.

Lalu, orang tua itu berterima kasih hingga sujud syukur atas bantuan dan pertolongan yang diberikan kepada dirinya. Ia juga berkali-kali memberikan doa baik kepada Husein dan teman-temannya. 

Setelah orang tua itu naik bus, Husein merasa senang dan bahagia dapat membantunya dan tersenyum kecil.