Oleh: Risma Kholiq
Pagi hingga malam dengan tubuh kurus, lemah, sedikit bungkuk, laki-laki paruh baya mencari barang rongsokan untuk menghidupi kedua anaknya. Tak kenal lelah kapanpun, dimanapun ia berada. Tujuannya sekarang hanyalah demi membiayai anak keduanya yang masih berkuliah.
Dengan pakaian compang-camping yang penting menutupi tubuh. Penuh tambalan sana sini. Sepatu yang dikenakan juga sudah dilem terus-menerus. Rasa capek dan lelah yang dirasakannya pun tak ia hiraukan.
Tak peduli perkataan orang akan pekerjaan yang dilakukannya. Selama itu halal, ia tak merasa malu. Demi menghidupi dan membiayai pendidikan anaknya. Karena hanya anaknya yang terpenting saat ini.
Ia rela bekerja apapun untuk mendapatkan uang. Kerja bangunan, bersih-bersih kebun, sopir, dan kerja paruh waktu lainnya. Selalu terlihat kuat dan tidak merasakan apapun saat di depan anak-anaknya.
Padahal ketika sendiri dan tidak terlihat anak-anaknya, ia meneteskan air mata sembari memijat kakinya perlahan. Cape, sakit, lelah dirasakannya sendiri. Walaupun begitu, ia tidak pernah mengeluh akan keadaannya sekarang.
Ia selalu bersyukur diberikan kesehatan dan kekuatan dalam mencari nafkah oleh-Nya. Namun, kini tubuhnya semakin kurus, sebab sering membawa besi, paku, alumunium, dan sebagainya di atas bahu. Ditambah harus memanggulnya dengan berjalan kaki.
Jarak tempuh yang jauh, bahkan sangat jauh demi mencari barang rongsokan. Mulai dari tempat pembakaran sampah, kebun kosong, proyek-proyek, gudang kosong dan apapun yang ia temuinya di sepanjang jalan.
Apapun jenis rongsokan itu ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Laki-laki paruh baya itu terus mencari di bawah terik matahari dan rintikan air hujan. Apabila turun hujan deras ia berteduh di ruko-ruko atau menumpang di teras rumah orang.
Menahan dinginnya cuaca di saat hujan dan menahan panas saat terik matahari di atas kepala. Rasa ingin putus asa? Tidak, ia terus menjalaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati. Hal itu ia lakukan demi kedua anaknya.
Saat tubuhnya lelah, ia selalu ingat akan tujuannya mencari barang rongsokan ini dan mencari nafkah di setiap harinya. Itulah yang membuatnya bangkit kembali dan terus berusaha sekuat tenaga.
Belum lagi di zaman sekarang, semua harga bahan pokok semakin mahal, pekerjaan sulit didapatkan, belum lagi bayaran semester anaknya. Jadi, tiada hari tanpa berusaha untuk menghasilkan uang.
Selain itu, tiap bulannya laki-laki paruh baya ini harus membayar kontrakan rumah dan biaya listrik. Tak terbayangkan berapa banyak pengeluaran yang dibutuhkannya setiap bulan. Dan betapa banyak keringat yang keluar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Laki-laki paruh baya ini mulai mencari barang rongsokan selesai solat subuh hingga menjelang siang. Beristirahat sebentar, lalu melanjutkan kembali hingga azan zuhur. Dan setelah solat zuhur ia mencari lagi hingga sore hari.
Setelah solat isya, dilanjutkan dengan merapikan hasil barang rongsokan yang dicarinya dari pagi hingga sore. Dipilihkan dan dipisahkan sesuai dengan jenisnya. Kemudian, disusun rapi dan ditumpuk hingga banyak.
Setelah banyak, ia menjualnya ke pengepul barang-barang rongsok. Meskipun harga jualnya tidak tinggi dan tergolong murah, laki-laki paruh baya itu tetap bersyukur. Sebab ia dan kedua anaknya bisa melanjutkan hidupnya.
Hal itu dilakukannya setiap hari. Namun, kini ia sering merasakan sakit ditubuhnya, seperti pusing, sakit di bagian perut, pegal-pegal, dan lain sebagainya. Hal itu, karena usianya yang tidak muda lagi.
Walaupun demikian, ia tetap melakukan pekerjaannya. Laki-laki paruh baya itu adalah seorang ayah yang banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup anaknya. Selalu berusaha untuk membuat senang dan bahagia.
Ia tidak ingin anaknya merasakan kesusahan seperti kehidupannya di masa lampau. Baik susah dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun dalam menempuh Pendidikan. Menurutnya, cukup ia saja yang merasakan kesusahan itu.
Demi membahagiakan anaknya, ia rela mengesampingkan kepentingannya, makan seadanya, mengirit kebutuhannya, dan menyisihkan sedikit uangnya untuk ditabung kala adanya kebutuhan mendadak atau mendesak.
Kini ia fokus hanya pada kebahagiaan dan kesuksesan kedua anaknya. Ia menginginkan anaknya berhasil serta bisa lebih baik. Supaya tidak merasakan cape di hari tua sebagaimana yang ia rasakan selama ini.
Rasa lelah, sakit, cucuran keringat, dan kedinginan, itu semua dilakukan untuk anaknya yang tercinta dan tersayang. Dengan penuh rasa senang, bahagia, dan ikhlas ia menjalankan semua itu. Serta tanpa mengharapkan imbalan atau balasan apapun dari sang anak.
Itulah pengorbanan seorang ayah kepada anaknya. Ia tak kenal lelah dan putus asa. Semua itu ia lakukan dengan sepenuh hati dan kasih sayang untuk kepentingan dan kesuksesan anaknya di masa depan.


0 Comments
Post a Comment