Oleh: Risma Kholiq
Ewith Bahar, Poet, Practitioner Building a World Network Through Poetry menyampaikan pembahasan materi mengenai Indonesian Poetry in the Future.
Dalam pembahasan ini Ewith Bahar teringat dengan seorang Futurolog Amerika yang sangat terkenal bernama Alvin Toffler yang salah satu bukunya Future Shock. Di tahun 70-an melalui buku itulah dia menciptakan atau mengeluarkan suatu tren yang dia sebut sebagai information overload.
Bahwa sekarang ramalan Alvin Toffler sudah terjadi, sudah Anda jalani saat ini dengan memiliki banyak informasi dan mudah mengakses pengetahuan apapun yang bernama informasi. Selain Future Shock, ada dua buku best seller Alvin Toffler, yaitu The third Wave dan Powershift.
“Dan sekarang teknologi sebagai pisau bermata dua, teknologi canggih dan sistem informasi yang sedemikian rupa berkembang secara signifikan dan sangat dahsyat menciptakan dua kelompok bahkan tiga kelompok. Satu, kelompok yang mampu menjawab atau beradaptasi dengan teknologi canggih ini dengan sikap positif, dengan cara berfikir positif, dan mengadaptasikannya dengan cara positif. Dua, mereka yang oleh karena adanya teknologi canggih ini di bidang informasi terutama, tetapi menanggapinya secara negatif, dengan cara berfikir negatif, kemudian melahirkan sikap-sikap yang negative. Lalu yang ketiga, mereka adalah kelompok yang malang, yang tidak tahu apa-apa dan hanya terhisap dari sana kemari mengikuti arus yang kadang malangnya mereka terhasut ke dalam sikap negatif.” Ucapnya.
Menurut Ewith Bahar, orang-orang tertentu akan tahu bagaimana mereka menghadapi atau bersikap terhadap canggihnya teknologi sekarang ini. Dalam tema Ewith Bahar membentuk jejaring masyarakat puisi internasional.
Kiprah Ewith Bahar di dunia sastra internasional belum terlalu lama, dari tahun 2020 awal sampai saat ini. Tapi, Ewith Bahar merupakan pribadi yang melihat sesuatu akan mengkalkulasi dan memanage diri terlebih dahulu.
Jadi, ada analisis SWOT. Strengths (kekuatan/kelebihan),
Weaknesses (kekurangan/kelemahan), Opportunities (peluang apa
yang bisa dimasukkan dengan kelebihan yang dimiliki), dan Threats
(ancaman yang ada di dalam diri).
“Orang dapat mengejar ketertinggalan dalam berbagai aspek. Hingga Ewith Bahar memahami adanya kata-kata ‘tidak akan berhenti seseorang belajar sampai ia menjelang masuk kubur’ itu betul. Hal itu tergantung kepada kitanya, apakah kita menganggapnya kebutuhan atau beban. Kalau kebutuhan kita adalah membuat satu ahagia maju tiap hari, pasti kita akan ditenagai dan motivasi itulah yang mentenagai manusia. Karena, setiap kesempatan yang datang itu adalah perpanjangan dari tangan Tuhan,” ujarnya.
Dalam agama Islam Nabi Muhammad berkata: “Berbahagialah kamu, kalau kamu tidak bahagia carilah kebahagiaan” Mengapa? Karena penyakit-penyakit hati itu berasal dari orang-orang yang tidak bahagia, baik pencurian, pemfitnahan, dan kejahatan-kejahatan lainnya. Seperti iri dengki itu berasal dari ketidakbahagiaan, maka dapat dikatakan orang-orang yang terjun ke dunia puisi sebenarnya sudah selangkah lebih maju dalam menyembuhkan diri mereka sendiri,” tutur Ewith.


0 Comments
Post a Comment