Oleh: Risma Kholiq

Puisi dan AI adalah pembahasan materi yang akan disampaikan oleh Prof. Ir. Teddy Mantoro, MSc, PhD, SMIEEE, Artificial Intelligence Technology and Poetry dalam Seminar Teater Kecil.

Sebagai pembuka acara, Prof. Teddy berkata: “Mengapa saya menjadi dosen/pengajar? Karena dengan menjadi dosen/pengajar saya dapat bangga mengakui bahwa saya adalah guru dari seseorang yang kita ajar,” ucapnya.

Materi pertama yang dibahas oleh Prof. Teddy Mantoro tentang perbedaan sajak (poem) dan puisi (poetry). Sajak (poem) susunan kata-katanya puitis dan bermakna. Hanya dalam beberapa kata, sebuah sajak bisa mengatakan banyak hal. 

Sajak ialah sepotong tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan individu dalam menyampaikan suasana hati: senang atau sedih, sederhana atau kompleks. Hal ini menginspirasi, membuat kagum, dan sesuatu yang benar-benar indah.

Sebuah puisi bisa saja berima atau tidak berima. Sebuah puisi juga bisa epik, naratif, dramatis, atau liris. Puisi epik adalah puisi yang berpusat pada tokoh mitos atau heroik, puisi naratif menceritakan sebuah cerita, puisi dramatis ditulis dalam syair, dan puisi liris menggambarkan perasaan dan pikiran penyair. 

Sedangkan puisi (poetry) penggunaan kata-kata dan bahasanya untuk membangkitkan perasaan dan pikiran penulis. Jadi, puisi adalah tentang pengalaman individu yang dapat dirasakan oleh orang lain. Kesimpulannya, sajak adalah puisi, namun puisi belum tentu sajak.

“Puisi mengolah rasa dalam keindahan kata, Pecinta puisi adalah ‘Pecinta Kebijaksanaan’ yang membahas hal mendasar tentang keberadaan/eksistensi dalam hidup, pengetahuan, nilai, kerendahan hati, ketinggian akal budi dan fikiran, dan keindahan makna kata (Canberra-Oz, Mantoro,2007)”.

“Pada zaman sekarang AI/mesin dapat membuat puisi, sehingga kadang sulit dibedakan mana buatan ML (AI) dan mana yang buatan sastrawan. Di dalam arti visual Artificial Intelligence mulai tahun 2000-an keluarlah yang namanya Deep Learning yang berasal dari AI yang namanya Neural Networks. Di dalam Deep Learning ada yang namanya RNN (Recurrent Neural Networks),” ungkapnya.

Dalam seminar ini, Prof. Teddy mengatakan bahwa jaringan otak membuat puisi dalam sel kita dan mereka terhubung ke hati, karena jantung mendistribusikan darah sepanjang waktu tetapi ilmu saraf berpikir dan membuat puisi sepanjang waktu. Kemudian, kita merasakan emosi melalui otak, bukan hati.

Kemudian, mengkomunikasikan puisi melalui jaringan dan teknologi dalam momen digital. Pada saat ini, Amerika memiliki empat bahasa untuk berbicara dan membuat puisi. Mencoba mempelajari bagaimana otak kita membuat digitalisasi, bagaimana kita bisa membuat puisi dengan teknologi digital, dan bagaimana membuat seni melalui seni yang dihasilkan oleh otak.

“Digitalisasi otak, ide digitalisasi begitu erat dalam membuat seni. Pemasaran digital dan teknik digital membuat jaringan otak atau neuron. Zaman digital harus menggunakan cara terbaik untuk menghasilkan seni atau segalanya. Perbedaan manusia dengan mesin adalah pada kapasitas atau kemampuan sublimasi dalam membuat karya seni. Kita adalah manusia dan manusia menghasilkan komputer dan mesin yang harus kita pelihara sepanjang waktu,” tutur Prof. Teddy.