(Part 2)

Oleh: Risma Kholiq
Apa isu-isu fundamental masyarakat cerdas 5.0? Menurut Riri Satria ada beberapa buku isu fundamental masyarakat cerdas 5.0 yang sudah Riri Satria rangkum dan baca.
Pertama, buku Digital Human, menjelaskan bagaimana manusia bereksistensi manusia dalam dunia yang serba digital sehari-hari.
Sehingga muncul Namanya Digital Human, maka terjadilah the fourth revolution of humanity untuk setiap orang. Bagaimana tidak? Sekarang hidup kita sudah mulai diatur oleh algoritma program computer, itu adalah fenomena Digital Human.
Kedua, buku Al and Human Thought and emotion, dimana teknologi dapat memahami emosi manusia. Dan sekarang sudah ada komputer yang dapat memahami perasaan manusia.
Ketiga, buku Augmented Intelligence (dari perspektif Eropa), bagaimana manusia dan teknologi untuk kepentingan sosial ekonomi. Keempat, buku Being Human in the Age of Artificial Intelligence (dari perspektif Amerika), mengenai eksistensi manusia dalam dunia algoritma kecerdasan buatan.
Kelima, buku The Internet of Things (IoT), mengenai eksploitasi teknologi untuk kepentingan manusia. “Berbagai sensor dapat kita gunakan di rumah kita,” ujarnya.
Keenam, buku Privacy Vulnerabilities and Data Security
Challenges in the IoT, mengenai keamanan pribadi yang sangat rentan, serta
kedaulatan digital. “Semakin kita menggunakan internet, maka data pribadi itu
semakin perlu diproteksi, itu isu tersendiri,” ucapnya.
Ketujuh, buku Internet of Medical Things, mengenai pelayanan Kesehatan yang lebih baik menggunakan internet. “Internet of Medical Things menjadi penting juga sekarang, mengapa? Karena kalau kita berobat ke rumah sakit medical record kita disimpan di rumah sakit,” katanya.
Kedelapan, buku
Tehnology vs Humanity, mengenai isu-isu kemanusiaan: digital divide dan digital
anxiety.
Kesembilan, buku Sosial Media, mengenai penggunaan sosial media dengan baik, aman, dan cerdas. “Sekarang sosial media sudah dipakai untuk assessment penerimaan karyawan/karyawati baru, yang dimana sosial media kalian akan dilihat.
Bagi mahasiswa yang sekarang masih suka posting marah-marah
please be careful, karena ketika kita melamar kerja yang akan diakses oleh
assessor adalah sosial media kita,” ucapnya.
Kesepuluh, buku The Post-Truth Society, mengenai batasan kabur antara kebenaran dengan hoax. The Post-Truth Society prinsipnya adalah manusia itu memiliki dua ruang, yaitu ruang fakta dan ruang persepsi terhadap fakta.
Kesebelas, buku Bridging the Generation Gap, mengenai penjembatanan gap
antar generasi. Keduabelas, buku Generation Alpha, mengenai muculnya generasi baru
di dunia: Generasi Alfa.
Ketigabelas, buku Smart Government, mengenai munculnya era pemerintahan yang cerdas (smart). Keempatbelas, buku Personal Branding in the Digital Age, mengenai personal branding di media sosial menjadi penting untuk karir dan sosial.
Kelimabelas, buku The Borderless World, mengenai dunia tanpa batas, melalui dunia maya. Keenambelas, buku The Millennial Playbook, mengenai munculnya berbagai profesi baru di kalangan milenial.
Dan yang terakhir adalah
SDG (Sustainable Development Goals) pada tahun 2030 umat manusia memiliki 17
agenda pembangunan untuk mensejahterahkan umat manusia di bumi ini.
Apa dampak semua itu terhadap dunia perpuisian dan kepenyairan? Yang menyebabkan tantangan di masa depan. Satu, teknologi digital sebagai medium of transfer. Akibatnya nulis puisi itu berubah dari dunia yang eksklusif menjadi dunia yang inklusif.
“Dan semua orang bisa nulis puisi sekarang,
bedanya dahulu tidak dipublikasikan hanya ditaruh di buku diary dan sekarang
semuanya dapat diposting di facebook,” ujarnya.
Dua, muncul puisi dalam wujud baru yang tidak bisa dituangkan ke dalam media buku kertas, contohnya: Hypertext Poem. Apa itu Hypertext Poem? Hypertext Poem adalah sebuah puisi yang mana ada kata-kata atau diksi dalam puisi itu dijelaskan oleh puisi lain yang link kepada puisi lain.
Sehingga ketika sebuah puisi kita klik 1,2 diksi dia pindah dari satu tempat ke tempat lain yang saling menjelaskan. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh teknologi/internet.
Jadi, Hypertext Poem adalah puisi yang saling
terkait dan saling menjelaskan, yang bisa dibuat melalui web, link, atau
aplikasi tertentu. Tiga, muncul puisi dalam wujud baru, yaitu Multimedia
Poems.
Enam, kurasi puisi semakin rumit antara puisi buatan manusia dengan puisi buatan mesin. Tujuh, membangun jejaring puisi dan kepenyairan global. Jadi, puisi itu ikut membangun peradaban global, tetapi harus tetap berada di local wisdomnya.
Terakhir, puisi dapat mengawal 17 agenda sustainable development goals (SDG) tahun 2030, maka puisi adalah soul-guardian SDG dengan semua aktivitasnya yang dapat memanusiakan manusia di planet bumi.
Kesimpulan dari pembahasan materi di atas adalah Revolusi industri 4.0 adalah tatanan industri dan ekonomi yang menggunakan teknologi digital mutakhir, antara lain kecerdasan buatan serta internet if things (IoT).
Masyarakat cerdas (smart society) 5.0 adalah wujud peradaban masyarakat yang menggunakan teknologi digital termasuk yang mutaknir dalam semua aspek kehidupan.
Perkembangan teknologi digital serta perubahan peradaban tersebut membawa
dampak ke berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat banyak, mulai dari ekonomi,
sosial, pendidikan, politik, kesehatan, termasuk dunia perpuisian dan
kepenyairan.
Terdapat 8 (delapan) dampak utama kepada dunia perpuisian dan kepenyairan, yaitu: medium of delivery, topik karya, wujud puisi baru, hypertext poems, munculnya puisi multimedia melibatkan teknologi digital, computer-generated poetry, isu kurasi karya puisi, membangun jejaring global untuk kemaslahatan bersama, serta puisi menjadi soul-guardian untuk sustainable development growth.
Ada 4 (empat) sikap manusia menghadapi perubahan, yaitu: menolak perubahan, menyaksikan perubahan, mengikuti perubahan, serta menciptakan perubahan.

0 Comments
Post a Comment